Tidak diragukan lagi, meminta maaf karena kesalahan yang kita lakukan adalah perbuatan terpuji. Permintaan maaf harus dilakukan untuk setiap kesalahan dan kekurangan yang kita lakukan yang menyebabkan orang lain terganggu atau merugi. Sebuah permintaan maaf menunjukkan bahwa seseorang secara intuitif menyadari kekurangan dari sebuah keputusan yang dia lakukan. Karena bersumber dari penyesalan, kita menilainya sebagai tindakan bermoral dan etis.

Namun, kita hanya mengklasifikasikan permintaan maaf sebagai tindakan etis jika berada dalam kondisi dan memenuhi persyaratan tertentu. Kalau permintaan maaf tidak memenuhi kondisi tersebut, permintaan maaf tadi menjadi tercela dan tidak etis.

Permintaan maaf hanya bersifat etis jika dilakukan sebagai respon atas kesalahan atau perbuatan jahat kita sendiri. Jika seseorang meminta maaf padahal dia tahu dirinya tidak berbuat kejahatan atau pelanggaran, inilah contoh permintaan maaf yang tidak etis. Imam AlÄ« a.s. pernah berkata, ā€œSeseorang yang meminta maaf padahal tidak bersalah, telah memaksakan kesalahan itu pada dirinya sendiri.ā€ Hal itu karena dengan meminta maaf, seseorang memberikan kesan bahwa dirinya bersalah atas sesuatu, bahkan dia tahu dirinya sama sekali tidak salah. Contoh jelas dari hal ini adalah inisiatif yang dilakukan beberapa muslim atas kejahatan yang dilakukan oleh muslim lainnya.

Ada lagi jenis permintaan maaf yang lebih tidak etis, yaitu permintaan maaf yang dilakukan setelah seseorang menjalankan tanggung jawab dan kewajiban agama. Jadi, setelah melakukan hal yang memang diperintahkan oleh Allah Swt, dia malah meminta maaf karena melihat orang lain tidak senang dengan hal itu. Contoh sederhananya adalah muslim yang menolak berjabat tangan dengan lawan jenis, namun meminta maaf atas perilaku tersebut.

Janganlah kalian meminta maaf karena telah mematuhi perintah Allahā€”cukuplah bagi kalian sebagai wujud sebuah kehormatan.

Imam Alī bin Abi Thalib a.s.

Lebih jauh, riwayat dan tradisi Islam tidak menyebutkan apakah seseorang harus mengharapkan dan menuntut permintaan maaf dari seseorang. Sebaliknya, kita banyak menemukan riwayat tentang menerima permintaan maaf yang diajukan orang lain. Karenanya, tidak aneh jika kita tidak mendapati sejarah yang menyatakan bahwa Imam Ali menuntut permintaan maaf dari orang-orang yang telah mengganggu kekhalifahannya.

Gagasan tentang mengharapkan permintaan maaf ini penting untuk diperhatikan. Hal itu membawa kita kepada contoh lain dari permintaan maaf yang tercela, yaitu ketika seseorang dituntut untuk meminta maaf oleh kelompok tertentu dengan motif terselubungā€”yang sering kali bersifat politis.

Peristiwa yang bisa menjadi contoh adalah ketika Khalifah Utsman mengasingkan Abu Dzar. Utsman memerintahkan Marwan untuk membawa Abu Dzar keluar kota dan tidak mengizinkan orang lain untuk menemaninya. Mengabaikan perintah khalifah, Imam Ali bersama Aqil dan putra-putranya datang menemani Abu Dzarā€”sebagai bentuk protes terhadap Utsman. Marwan menganggap tindakan tersebut sebagai bentuk penghinaan terhadap dirinya. Khalifah juga marah setelah mengetahui hal tersebut.

Tetua dari Muhajirin dan Ansar menekan Imam Ali agar meminta maaf kepada Marwan. Nampaknya, Marwan juga mengharapkan permintaan maaf itu. Tapi Imam Ali merespon mereka, ā€œAdapun tentang Marwan, saya tidak akan menemui ataupun meminta maaf darinya.ā€ Dalam kehidupan sehari-hari, kita melihat ekspektasi untuk meminta maaf dibebankan kepada umat Islamā€”sering kali dengan motif tersembunyiā€”seolah mereka harus meminta maaf atas pandangan yang diyakini atau keputusan yang diperbuat padahal itu adalah hak mereka.

Dari perspektif serupa, permintaan maaf tercela lainnya adalah permintaan maaf kepada seseorang yang menganggap kita tidak berharga, mengabaikan hak kita, dan dia menganggap dirinya yang paling berhak. Salah satu hikmah Luqman yang diriwayatkan oleh Imam į¹¢Ädiq menyebutkan, ā€œJanganlah meminta maaf kepada seseorang yang tidak memberikan hak apapun kepada kalian.ā€ Hal itu karena meminta maaf kepada orang seperti itu hanya akan merendahkan dan menghina diri sendiri.

Referensi:

Ali, Sayyid (24 November 2019). ā€œWhen Apologies Becomes Unethicalā€. Iqra Online.

Komentar Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.