Sejak awal, Islam hadir dengan dasar dua kalimah. Pertama mengajak manusia pada kalimatut-tauhīd dan kedua upaya memperkuat tauhīdul-kalimah. Semasa hidupnya, Nabi ﷺ memberikan perhatian khusus pada dua kalimah itu. Jika beliau menyebarkan ajaran tauhid, beliau melakukan upaya yang sama untuk persatuan dan ukhuwah di kalangan umat Islam. Beliau membenci segala bentuk perselisihan dan perpecahan.

Ada sebuah insiden yang terjadi saat pertempuran di daerah Bani Al-Musthaliq. Dua orang dari kalangan muhajirin dan ansar terlibat adu mulut. Masing-masing meminta bantuan dari kaumnya. Ketika Nabi ﷺ mengetahui kejadian itu, beliau berkata:

دَعُوهَا فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ

Tinggalkan perbuatan itu, sebab itu sesuatu yang busuk.

Persatuan kaum muslim di Madinah tentu membuat iri kaum Yahudi. Sebab pada masa jahiliah, mereka bisa memanfaatkan perselisihan dua kabilah Aus dan Khazraj. Tetua Yahudi bernama Syās bin Qais mengamati, pemuda dari dua kelompok yang kemarin saling haus darah, kini bisa duduk bersama sebagai saudara.

Untuk mengusik persatuan, Syās menugaskan seorang pemuda Yahudi. Dia datang ke majelis kedua kabilah untuk mengungkit kisah pertempuran mereka; mengingatkan masa lalu yang pahit. Upaya menyalakan api peperangan berhasil dilakukan. Remaja naif Aus dan Khazraj, yang sedang duduk dalam damai, termakan oleh hasutan pemuda Yahudi.

Nabi ﷺ yang suci datang kepada mereka dan berkata, “Wahai kaum muslimin, apakah kalian akan kembali ke masa jahiliah sementara aku ada di antara kalian? Allah ﷻ membimbing kalian dalam jalan Islam, memutus ikatan jahiliah, menyelamatkan dari kekafiran, dan membuat hati kalian saling menyayangi.” Begitu kalimat bijak Nabi ﷺ yang mematikan api fanatisme. Kalimat yang menyadarkan tentang bahaya api hasutan yang dinyalakan agen Yahudi.

Embed from Getty Images

Seminar, kajian, konferensi, tulisan mengenai Syiah yang sesungguhnya bisa berkontribusi pada persatuan. Persatuan itu tidak mungkin terjadi tanpa adanya pemahaman. Awalnya, kita melihat sunnī atau Syiah dari jauh seumpama monster. Namun jika didekati sedikit demi sedikit, kita akan melihat bahwa ternyata ia adalah saudara yang telah lama hilang. Jika kesamaan di antara keduanya diungkapkan, perbedaannya menjadi jauh lebih sedikit.

Syekh Thūsī menulis Al-Khilāf dan Syekh Thabarsī menulis Al-Mu’talaf min al-Mukhtalaf. Kedua kitab tersebut mengupas banyak kesamaan di antara kedua kelompok. Dalam Al-Khilāf, Syekh Thūsī menjelaskan berbagai masalah fikih dari berbagai mazhab ahlusunah selain mazhab Syiah.

Dalam surah Āli ‘Imrān, Nabi Muhammad ﷺ mengajak ahlulkitab bersama-sama dengan mengatakan, “Marilah kita menuju kepada satu kalimah yang sama antara kami dan kalian…” Bayangkan, Nabi ﷺ mengajak para ahli kitab. Lalu kenapa pengikut syariat yang sama dengan dua mazhab fikih tidak bisa bersatu?

Harus diakui, kesepakatan (itifak) itu memerlukan pengenalan. Persatuan atau pendekatan tidak mungkin terjadi tanpa saling mengenal kebenaran masing-masing kelompok.

Dr. Yousef Shoghi dari Fakultas Teologi Universitas Marmara pernah menulis makalah yang mengevaluasi pandangan Syiah Imamiah tentang usuludin. Ada sepuluh hal yang dia nisbatkan kepada Imamiah dan hal tersebut jauh dari apa yang diyakini Syiah. Misalnya, dia mengatakan wahyu Allah berlanjut pada keturunan nabi; Imamiah percaya pada distorsi (tahrīf) Al-Qur’an; pengikut Imamiah hanya dapat ditemukan di “kuil” tempat para pemimpin mereka berada; Imamiah mempercayai bada’, menentang keazalian ilmu Allah, dan mengabaikan nas Al-Qur’an.

Sudah pasti, jika mazhab Syiah Imamiah diperkenalkan kepada ikhwan ahlusunah dengan cara yang sama seperti yang disampaikan dosen Fakultas Teologi Universitas Marmara itu, pendekatan (taqrīb) antarmazhab tidak mungkin tercapai, apalagi persatuan.

Referensi:

Sobhani, Jafar (1379). Safir-e Vahdat... Moasseseh Imam Sadeq. ISBN 9646243878.

Artikel ini diadapatasi dari materi Ayatullah Al-‘Uẓmā Jafar Sobhani dalam sebuah seminar. Ayatullah Jafar Sobhani (lahir 1929) merupakan ulama yang mendalami berbagai disiplin ilmu baik filsafat, kalam, fikih, tafsir Al-Qur’an, hadis, dan sejarah.

Komentar Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.