Sekelompok muslimin mendatangi rumah salah seorang cucu Rasulullah ﷺ, ‘Alī bin Mūsā Ar-Ridhā. “Kami para pengikut imam datang untuk bertemu,” kata mereka. Anehnya, Imam Ridhā menahan dan tidak mengizinkan mereka pergi. Setelah 60 hari berlalu, mereka lalu bertanya, “Apa yang kami lakukan sehingga Imam nampak marah kepada kami?” Mereka heran karena sudah bersikap sopan dengan menunggu dan mematuhi imam.

Imam Ridhā berkata, “Mereka telah bertanya dan sekarang biarkan mereka masuk.” Orang-orang itu akhirnya masuk dan meminta izin untuk duduk. Imam Ridhā belum mengizinkannya. Sambil berdiri, mereka bertanya, “Mengapa engkau tidak mengizinkan kami pergi?”

Imam berkata, “Kalian telah membuat klaim besar dengan mengatakan ‘Kami pengikut (syi’ah) Anda’. Tahukah kalian siapa Syiah ‘Alī bin Abī Thālib? Mereka adalah Hasan, Husain, Miqdad, dan Abū Dzar. Janganlah kalian mengatakan ‘Kami Syiah’ tapi katakanlah ‘Kami para pencinta (muhib)’.”

Merasa malu, mereka berkata, “Kami tidak bermaksud untuk mengklaim; kami mencintai engkau.” Setelah itu, Imam memeluk mereka dan memperlakukan mereka dengan kasih sayang.

Kisah ini berakhir indah. Imam bertanya kepada khadamnya berapa lama orang-orang ini telah menunggu dan dijawab 60 hari. Imam berkata wakilnya akan mengunjungi mereka 60 kali dan setiap berkunjung akan membawakan hadiah.

Terdapat subjek penting dari kisah di atas. Imam Ridhā menjelaskan, muslim Syiah adalah orang yang tidak meninggalkan satu perintah pun dan selalu mengikuti nasihat imam ahlulbait. Imam tahu, mereka yang datang tidak mengikuti sebagian nasihatnya. Terkadang abai dalam menghormati hak saudara seagama.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَیْنَ أَخَوَیْکُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّکُمْ تُرْحَمُونَ

Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, maka itu perbaikilah (hubungan) antara kedua saudaramu itu dan bertakwalah kepada Allah agar kalian mendapat rahmat.

Kita sering membaca ayat Al-Qur’an di atas. Kita butuh rahmat dari Allah ﷻ. Karena itu, setiap orang yang mendambakan kehadiran imam zaman sebagai salah satu rahmat, wajib menjaga ukhuwah islamiah.

Dari sudut pandang personal, mungkin saja kita siap menanti kehadiran imam zaman. Tapi belum tentu dari sudut pandangan sosial. Memang banyak orang baik di sekitar kita. Tapi sekadar baik saja tidaklah cukup. Kita perlu beberapa orang paripurna di masyarakat. Bersama pribadi paripurna ini, imam akan bangkit.

Kita memerlukan masyarakat yang memahami ukhuwah islamiah pada tingkatan yang sangat tinggi. Terutama para pejabat negara, tentara Allah ﷻ, dan para cendikiawan agama. Seluruh muslim Syiah dan para penanti imam zaman harus memperhatikan kalimat tersebut.

Jika kita pribadi yang baik, tidak berzina, tidak berbuat haram dan dosa, tentu hal itu baik. Tapi kita punya tugas lain sampai dengan kemunculan imam. Seberapa tinggi ukhuwah islamiah di antara kita? Bagaimana perilaku kita terhadap sesama?

Imam zaman tidak hadir untuk seseorang yang menjalankan tugasnya sendiri, tapi malah abai dengan hubungan terhadap sesama.

Meningkatkan budaya persaudaraan adalah kebutuhan utama masyarakat saat ini. “Menjadi baik” adalah satu hal, tapi “menjadi baik bersama-sama” adalah hal lain. Imam Mahdi ingin masyarakat yang tahu bagaimana hidup bersama dengan baik. Budaya buruk yang disebarkan oleh adidaya adalah individualisme; setiap orang sibuk sendiri-sendiri, mengejar kepentingan pribadi. Kita seharusnya tidak seperti itu.

Bersedekah melalui kotak amal lalu dimuat di sosial media, tidaklah cukup. Berjalan melewati seseorang lalu tersenyum, tidaklah cukup. Kita harus membantu dan mengajaknya bangkit. Orang beriman itu hidup bersama dan selama itu pula dia melakukan pengorbanan (itsār).

Sebuah riwayat menyebutkan, seorang mukmin turut bertanggung jawab atas aib saudaranya dan mengatasnamakan kebaikannya kepada orang lain.

Allah ﷻ berfirman kepada Nabi Musa bahwa kedudukan tinggi spiritual para pengikut nabi adalah itsār. Itsār berarti memberikan sesuatu yang kita butuhkan kepada orang lain yang membutuhkan. Itsār berbeda dengan zakat. Kalau zakat, kita membayar kelebihan harta. Kalau sedekah, kita memberikan sedikit harta yang dimiliki.

Itsār adalah pengorbanan yang luar biasa. Bukan hanya memberikan apa yang kita cintai, tetapi juga melepaskan sesuatu yang kita butuhkan.

Perumpamaan tentang persaudaraan kita di masyarakat haruslah seperti berada di medan perang. Saat para prajurit saling perang dan bersiap menyambut ajal. Perang itu bisa memperkuat hubungan antarsesama. Kita bersedia memberikan nyawa untuk keselamatan orang lain dengan mudah. Itulah puncak persaudaraan yang harus kita capai. Dengan ikatan persaudaraan ini, insyaallah keajaiban di masyarakat akan tercipta.

Artikel ini merupakan ringkasan ceramahan Hujjatul-islām Alireza Panahian di kompleks Masjid Shah Cheragh, Shiraz.

Komentar Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.