‘Pernikahanku dengan Orang Syiah Tidak Membutuhkan Opinimu’

Tuscany Bernier tidak pernah bertemu dengan muslim seumur hidupnya ketika memutuskan untuk memeluk agama Islam pada usia 19 tahun. Semua berawal dari Twitter, ketika wanita asal Malaysia berkicau tentang betapa bahagianya dia menjadi muslim. “Tidakkah dia tahu kalau wanita muslim itu tertindas?” ujar Tuscany. Sadar tidak tahu apapun tentang Islam, Tuscany segera keluar rumah dan berkendara selama satu jam. Tujuannya? Membeli Alquran pertamanya. Lanjutkan membaca “‘Pernikahanku dengan Orang Syiah Tidak Membutuhkan Opinimu’”

Perjuangan Cinta Penganut Syiah dan Suni

Romeo dan Juliet atau Layla dan Majnun telah dikenang abadi. Begitu juga dengan Zakia dan Mohammad Ali. Zakia adalah seorang Tajik bermazhab ahlusunah, sementara Ali adalah seorang Hazara bermazhab Syiah. Keluarga Zakia menentang hubungan mereka berdua atas dasar budaya, etnik, dan agama. Ayah, ibu, dan sepupunya rela mengorbankan harta dan nyawa mereka untuk memburu dan membunuh Zakia dan Ali karena kejahatan yang mereka dilakukan: jatuh cinta. Lanjutkan membaca “Perjuangan Cinta Penganut Syiah dan Suni”

Tarikan Nafas Ibu

Kematian merupakan tema yang sulit untuk dibicarakan apalagi jika berkaitan dengan ibu. Rasulullah saw. pernah menggambarkan bahwa satu tarikan nafas ibu tidak bisa terbalas oleh kebaikan seseorang. Itu sebabnya cinta ibu tidak dapat dinamai cinta karena cinta itu bisa layu sedang cinta ibu tidak pernah layu. Pengorbanannya pun tidak bisa dinamai pengorbanan, karena pengorbanan itu terselip dicelanya rasa sakit. Tetapi ibu, ketika berkorban untuk anaknya, begitu dia memandang mata anaknya maka tidak lagi dia merasa sakit.

Jangan duga hanya anak kecil yang menangis ditinggal ibunya. Orang dewasa, bahkan Rasulullah saw. pun menangis ditinggal ibunya. Di dalam suatu riwayat dikatakan bahwa satu ketika Rasulullah bersama sekian sahabat melalui tempat dikuburkan ibunya, dekat Madinah, di Abwa. Ketika beliau singgah para sahabat menjauh. Tiba-tiba terdengar suara tangis yang keras. Sayidina Umar yang mendengar itu takut. Ada apa nabi menangis? Setelah kembali beliau berkata kepada Umar, “Tangisku menakutkan engkau?” “Benar, wahai nabi.” Beliau saw. lantas menjawab, “Saya mengenang ibu.”
Lanjutkan membaca “Tarikan Nafas Ibu”