Hajinya Orang Iran dan Kebangkitan Islam

Jika berbicara tentang haji dan Iran, orang-orang yang antipati terhadap Syiah—karena ketidaktahuannya—akan mengatakan bahwa ciri khas kelompok Syiah adalah “melakukan demonstrasi dan perusakan di kota suci Mekah pada musim haji setiap tahun dengan mengatasnamakan revolusi Islam.”[1] Peristiwa yang tidak dapat dilupakan baik oleh kelompok anti-Syiah maupun pemerintah Iran—yang diperingati setiap tanggal 6 Zulhijah—terjadi pada tahun 1987 dan menewaskan lebih dari 400 orang.

Sebelum revolusi Islam Iran tahun 1979, pemerintahan raja Pahlevi melakukan penekanan terhadap segala aktivitas ibadah yang berkaitan langsung dengan masalah sosial, seperti salat berjemaah. Begitu pula pada pelaksanaan ibadah haji, yang terpengaruh tekanan penguasa negeri-negeri muslim pada masa itu, jauh dari ruh sejatinya dan tidak memperhatikan sisi filosofi pertemuan akbar tahunan umat Islam tersebut. Padahal ayat Quran menyatakan: Allah menjadikan Kakbah sebagai baitulharam agar umat manusia bangkit (QS. Almaidah: 97)
Lanjutkan membaca “Hajinya Orang Iran dan Kebangkitan Islam”

Inner Beauty Wanita Muslim

Ketika seorang wanita muslim berada di masyarakat, dia ingin agar masyarakat melihat sisi kemanusiannya; bukan seksualitasnya. Seksualitas hanya untuk pasangan yang ada di rumah. Baik pria maupun wanita harus membatasi daya tarik seksualnya kepada pasangannya. Di dalam masyarakat, kita semua adalah manusia; baik pria maupun wanita. Kita tidak boleh berperilaku dengan menekankan sisi gender. Karenanya, diri kita sebagai manusia harus lebih diutamakan.

Di masyarakat yang seksualitas wanitanya lebih terlihat jelas bagi pria, tidak hanya membuat wanita menjadi kurang aman dan kekerasan lebih banyak terjadi padanya, tapi juga membuatnya direndahkan. Karena seolah masyarakat mengatakan kepadanya: “Aku tidak peduli dengan hakikat dirimu. Aku hanya peduli dengan penampilanmu. Kamu sendiri tidak ada artinya bagiku.”
Lanjutkan membaca “Inner Beauty Wanita Muslim”

Menangisi Kehidupan

Pagi menjelang siang pada hari Senin (16/05) yang lalu saya masih ada di sebuah stasiun, ketika tiba-tiba handphone bergetar. Suara kakak di telepon seakan ikut bergetar mengabarkan bahwa jiddah meninggal. Kabar ini mengejutkan karena beberapa hari terakhir nenek terlihat lebih sehat. Sepupu dan khalati masih sempat sarapan bersama dengannya. Setelah sarapan beliau mandi, wudu, berdoa, kemudian berjemur di halaman depan sambil duduk di kursi roda.

Saya berbicara dengan sepupu tentang betapa cepat waktu mengambil orang kesayangan satu per satu. Sifat kematian yang tidak pernah kenal permisi membuat kita harus selalu waspada. Waspada dalam menjaga perasaan orang lain, khususnya orang tua. Saya membayangkan betapa banyak kesalahan saya kepada orang tua, kerabat, dan ketika kematian mengambil mereka dan tidak ada kesempatan bagi kita untuk meminta maaf?
Lanjutkan membaca “Menangisi Kehidupan”