Dialog Ulama dengan Si Cerdik

Cerita ini terjadi beberapa abad yang lalu. Bermula dari pertemuan seorang ulama muslim dengan seorang kafir, yang kemudian berlanjut dengan dialog yang perlu kita renungkan. Sebagaimana yang kita ketahui, dalam sejarah Islam terdapat beberapa aliran sejak zaman dahulu hingga sekarang. Salah satu dari perbedaan itu adalah bagaimana cara seorang muslim sejati menilai suatu “kebaikan” dan “keburukan”. Perbedaan itu sebenarnya menyangkut masalah fundamental keislaman. Kubu Imam Ali bin Abi Thalib dan Khawarij merupakan sumber utama perbedaan itu. Dari kedua kubu itulah kemudian menyusup masuk ke dalam golongan-golongan lain, yang walaupun tidak memakai nama golongan keduanya: pengikut ahlulbait dan Khawarij.

Lanjutkan membaca “Dialog Ulama dengan Si Cerdik”

Menangisi Kehidupan

Pagi menjelang siang pada hari Senin (16/05) yang lalu saya masih ada di sebuah stasiun, ketika tiba-tiba handphone bergetar. Suara kakak di telepon seakan ikut bergetar mengabarkan bahwa jiddah meninggal. Kabar ini mengejutkan karena beberapa hari terakhir nenek terlihat lebih sehat. Sepupu dan khalati masih sempat sarapan bersama dengannya. Setelah sarapan beliau mandi, wudu, berdoa, kemudian berjemur di halaman depan sambil duduk di kursi roda.

Saya berbicara dengan sepupu tentang betapa cepat waktu mengambil orang kesayangan satu per satu. Sifat kematian yang tidak pernah kenal permisi membuat kita harus selalu waspada. Waspada dalam menjaga perasaan orang lain, khususnya orang tua. Saya membayangkan betapa banyak kesalahan saya kepada orang tua, kerabat, dan ketika kematian mengambil mereka dan tidak ada kesempatan bagi kita untuk meminta maaf?
Lanjutkan membaca “Menangisi Kehidupan”

Memilah Masalah Kehidupan

Di saat hal-hal dalam kehidupan terasa begitu banyak yang harus diselesaikan; di saat 24 jam dalam sehari terasa tidak cukup, beristirahatlah sejenak dan ingatlah stoples dan kopi.

Seorang profesor berdiri di depan kelas dan memiliki beberapa perlengkapan yang ditaruh di depannya. Ketika kelas dimulai, tanpa banyak bicara, ia mengambil stoples besar yang kosong dan mulai mengisinya dengan bola golf. Dia kemudian bertanya kepada mahasiswanya apakah botol itu penuh. Mereka setuju dengan hal itu.

Lanjutkan membaca “Memilah Masalah Kehidupan”