Tangisan Mufti Suni Suriah

Tanggal 18 Maret 2013, kita mendengar kabar terpilihnya warga Amerika Serikat, Ghassan Hitto, sebagai perdana menteri oposisi Suriah. Tiga hari berselang kabar mengejutkan tersebut bertambah dengan wafatnya Syekh Muhammad Said Ramadan Al-Buthi bersama empat puluh orang lain—termasuk cucunya[1]—dalam sebuah ledakan di kota Damaskus. Syekh Al-Buthi bukan hanya sekedar ulama suni Syafii yang menentang campur tangan asing dalam krisis di Suriah, tetapi juga pendukung persatuan di antara mazhab ahlusunah dan Syiah.[2]

Bukti-bukti yang ada sejak awal krisis hingga kini telah membuktikan campur tangan dan dukungan asing terhadap pemberontak demi runtuhnya pemerintahan Bashar Assad. Tetapi semua bukti jelas tersebut belum terasa cukup; justru sebaliknya, syahidnya Syekh Al-Buthi malah dituduhkan kepada pemerintahan Assad. Sehingga di satu sisi, media menyesalkan seorang ulama suni yang mendukung Bashar Assad; tapi di sisi lain media yang sama juga mengecam pemerintahan Bashar Assad karena membunuh pendukungnya.
Lanjutkan membaca “Tangisan Mufti Suni Suriah”

Berjalan Bersama Kematian

“Bagaimana kalau besok saya mati?” Banyak dari kita tidak senang mendengar kalimat seperti itu, apalagi jika yang mengucapkannya adalah kerabat. Padahal memang demikianlah sifat kematian; ia tidak mengenal waktu karena tidak perlu menunggu besok. Juga tidak mengenal usia karena bisa mendekati yang tua dan muda. Ia juga tidak mengenal tempat. Ada yang tewas karena peluru nyasar bahkan kesetrum saat berjalan di trotoar. Ada pula yang tewas akibat jembatan putus di Kalimantan yang berasal dari Jawa.

Hal apa yang paling dekat, tanya Imam Ghazali. Kematian adalah jawabnya. Ia begitu dekat bagi makhluk apa saja tanpa mengenal warna kulit, bentuk fisik, kualitas akhlak, agama, apalagi label mazhab. Bahkan ateis yang menolak Tuhan pemberi kehidupan tidak mampu menolak kematian. Tapi kita relatif tidak senang mendengar kenyataan melalui pertanyaan itu. Kita akan mengatakan, “Ah, jangan bicara seperti itu.”
Lanjutkan membaca “Berjalan Bersama Kematian”

Presiden Ini Selalu Mencium Alquran

Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah tulisan yang berusaha membuktikan bahwa Presiden Republik Islam Iran, Mahmoud Ahmadinejad, adalah seorang penghina Islam. Kesahajaan yang selama ini ditampilkannya adalah kepura-puraan karena sebenarnya ia menyembunyikan permusuhan terhadap Islam. Lalu, bagaimana cara Ahmadinejad memperlakukan Alquran? Lanjutkan membaca “Presiden Ini Selalu Mencium Alquran”