Nasihat Baqir Shadr kepada Para Ulama

Ayatullah Baqir Shadr, pada hari-hari terakhir Ramadannya, memberikan ceramah dari hati-ke-hati kepada para ulama agama. Khotbah ini diterjemahkan dari sebuah buku berjudul Trends of History in the Quran oleh penulis yang sama. Inilah sebagian dari pembicaraannya:

“Seseorang bisa mencintai Allah atau mencintai dunia ini. Tapi kedua cinta itu tidak bisa ada dalam satu hati. Marilah kita uji hati ini. Marilah periksa hati kita untuk melihat apakah cinta kepada Allah atau cinta kepada dunia ini yang ada. Jika cinta kepada Allah yang ada di dalam hati kita, marilah kita perdalam. Jika cinta kepada dunia ini yang ada—semoga Allah mencegahnya, marilah kita selamatkan diri kita dari penyakit mengerikan ini.

Lanjutkan membaca “Nasihat Baqir Shadr kepada Para Ulama”

Akal dan Hati, Bukan Perasaan

Beberapa hari terakhir, saya sempat terlibat “perang dingin” mengenai keunggulan antara akal dan hati. Saya sempat menulis update status: “Menurut Alquran akal adalah hujah dan menurut akal Alquran adalah hujah”. Perang semakin memuncak ketika saya menulis tentang keyakinan saya bahwa agama ini menjunjung tinggi akal. Tentu bukan sembarang akal, tapi akal yang sudah menjalani alur pikir yang benar.

Di sisi lain, pihak kontra meyakini bahwa hati adalah penentu benar atau salah. Sebenarnya saya juga meyakini hati adalah penentu kebenaran, apalagi jika dikaitkan dengan tema sufistik. Tapi ketidaksetujuan muncul ketika hati (yang memiliki tujuh lapisan ini) disamakan dengan perasaan (emosi). Ini sebabnya, saya kutip potongan artikel berikut yang saya tulis tahun 2006:

Lanjutkan membaca “Akal dan Hati, Bukan Perasaan”

Meningkatkan Koneksi Internet Menuju Tuhan

Oleh: Zainab Abbas (Toronto, AS)

Kita sudah tidak asing lagi dengan pentingnya kekuatan sinyal. Baik koneksi internet atau jaringan wireless, kekuatan sinyal begitu penting seperti pentingnya kita bernapas. Banyak dari kita mengganti modem dial-up yang lama dengan sambungan DSL agar koneksinya lebih cepat dan kerja menjadi lebih efisien. Kita membayar lebih pada perusahaan kabel dan internet agar mendapat koneksi terbaik dan memastikan sukses dalam ‘pekerjaan’ tanpa harus loading.

Jadi, apa yang menyebakan kita ingin memiliki internet cepat dan tetap terkoneksi? Mudah saja, kita ingin bisa mengakses dunia virtual setiap waktu dan setiap kali kita membutuhkannya. Kita tidak ingin membuang waktu seharian untuk mendapatkan internet cepat, tapi ketika saatnya koneksi dengan Allah, kita melakukannya dengan modem dial-up lambat yang butuh waktu lama untuk connect, memutusnya kalau telepon berdering, atau meninggalkan halaman kosong (page blank) begitu lama sehingga memutus sambungan. Apa yang kita butuhkan untuk tetap tersambung selama 24 jam sehari 7 hari seminggu?

Lanjutkan membaca “Meningkatkan Koneksi Internet Menuju Tuhan”