Kata “Ahlulbait” dalam Alquran

Ada seseorang yang kerap kali berkunjung ke blog ini (serta blog lainnya) dan konsisten dalam berkomentar tentang topik yang sama. Sesekali dia datang dan kembali meng-copy-paste hipotesisnya. Orang itu beranggapan bahwa konflik suni-Syiah disebabkan perebutan tahta ahlulbait. Dia juga mengatakan bahwa ahlulbait (dan keturunan nabi) sudah tidak ada, sehingga sepantasnya tidak perlu ada lagi konflik suni-Syiah.

Dia mungkin mencoba untuk menyederhanakan masalah. Sangat mungkin dia akan kembali lagi ke blog ini dan mengulang hipotesisnya. Saya jadi berpikir, kalau ahlulbait sudah tidak ada, mengapa nabi saw. mewasiatkan umatnya untuk berpegang teguh pada Alquran dan ‘itrah, ahlulbait (HR. Muslim)? Kalau Alquran suci, bagaimana mungkin dipadankan dengan yang tidak suci? Kalau Alquran kekal dan menjadi petunjuk hingga saat ini, bagaimana pantas dipadankan dengan sesuatu yang sudah tidak ada? Berikut ini sekelumit penjelasan tentang kata “ahlulbait” dalam Alquran yang saya kutip dari A Shi’ite Encyclopedia.
Lanjutkan membaca “Kata “Ahlulbait” dalam Alquran”

Transliterasi dan Serapan Bahasa Arab

Hari ini saya membaca dua berita yang bagi sebagian orang kurang penting untuk dibesar-besarkan. Baca saja berita dengan judul Bahasa Indonesia Tidak Akomodasi Umat Islam dan Transliterasi Huruf Arab ke Latin Ganggu Keyakinan Umat Islam. Memang umat muslim adalah mayoritas, tapi mau diakomodasi seperti apa lagi sedangkan masing-masing memiliki keyakinannya sendiri tentang bahasa (baca di sini)? Apa benar sedemikian membahayakannya sampai “mengganggu keyakinan”?

Saya memang bukan pemerhati apalagi pakar bahasa (siapa juga yang bilang?!), tapi menurut saya yang perlu ditelusuri mungkin antara transliterasi (alih aksara) dan serapan. Memang sudah ada pedoman transliterasi (alih aksara) Arab-Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tanggal 22 Januari 1988, tapi ternyata tidak semuanya tahu, patuh, dan konsisten dalam penggunaannya.
Lanjutkan membaca “Transliterasi dan Serapan Bahasa Arab”

Proses Memperbaiki Bahasa Blog

Sudah lama saya tidak update tulisan di blog ini. Banyak alasannya, mulai dari (sok) sibuk hingga sulitnya fokus pada satu tema saat menulis. Satu hal lain yang tidak kalah penting adalah blog ini sedang dalam proses merapikan bahasa yang digunakan: Bahasa Indonesia. Ada yang bilang bahasa yang saya gunakan cenderung kaku dan tidak menarik. Tapi itu semua semata-mata untuk mempertahankan pola bahasa yang baik. Apalagi terdengar kabar negeri jiran sedang mengklaim Bahasa Indonesia(?)

Beberapa bagian kata dan kalimat dalam blog ini merupakan serapan dari Bahasa Arab. Misalnya saja kata “mazhab” dalam judul blog ini. Saat ini masih ada orang yang salah dalam menuliskannya menjadi “madzhab”. Begitu juga “hadits” yang seharusnya ditulis “hadis”, “Al-Quran” yang seharusnya ditulis “Alquran”, malahan yang selama ini saya tulis “Ramadhan” dan “adzan” seharusnya ditulis dengan “Ramadan” dan “azan”. Hal sepele? Justru dari hal kecil inilah kita memulai sesuatu yang besar. Perfeksionis? Tidak.

Lanjutkan membaca “Proses Memperbaiki Bahasa Blog”