Adakah Ayatullah Perempuan? Mungkin Saja Zohreh Sefati

Media menyebut dirinya sebagai female ayatollah. Meski sebenarnya tidak ada gelar itu di depan namanya. Gelar yang biasanya disanding para pria. Gelar tertinggi yang diberikan kepada ulama Syiah. Āyatullāh berarti “bukti dari Allah”. Wanita ini membuktikan dirinya bisa menjadi seorang mujtahid. Konon, satu-satunya mujtahid perempuan di Iran saat ini. Namanya adalah Zohreh Sefati.

Lanjutkan membaca “Adakah Ayatullah Perempuan? Mungkin Saja Zohreh Sefati”

Orang Tua Juga Harus Belajar dari Anak-Anak

Hanya karena hidup lebih dulu dari anak-anak, orang tua kerap merasa paling benar. Sikap itu diwujudkan dengan memaksa anak-anak untuk bersikap sama seperti mereka para orang dewasa; tidak lagi kekanak-kanakan. Padahal, Nabi saw. sendiri pernah berkata, “Seseorang yang memiliki anak harus memperlakukan anaknya seperti anak-anak.”[1] Lanjutkan membaca “Orang Tua Juga Harus Belajar dari Anak-Anak”

Berbuat Baik: Kunci Kebahagiaan Pasangan Suni dan Syiah

Namanya Aida Ishtiaq. Wanita yang besar di Kuwait ini hidup di lingkungan keluarga ahlusunah. Sejak kecil, dongeng sebelum tidur yang diceritakan ibunya selalu berkisah para nabi dan sahabat. Mereka selalu pergi umrah dan haji setiap kali ada kesempatan. Jadi, bisa dibayangkan, setelah dua tahun pindah ke Pakistan, Aida justru mengatakan kepada keluarganya akan menikahi seorang pria Syiah.

Ucapan “Kamu tidak tahu apa yang kamu bicarakan!”, “Mereka tidak seperti kita!”, dan “Orang Syiah bukan muslim!” kerap dilontarkan kepadanya.

Setelah beberapa tahun, barulah keluarganya setuju dan Aida pun menikah. Ternyata benar, keluarga suaminya sangat berbeda dari Aida. Bahkan bertolak belakang. Hampir tidak mungkin Aida menyesuaikan jika bukan karena dukungan dan pengertian dari suaminya. Suaminya paham bahwa pernikahan yang baik membutuhkan kerja sama tim; saling memberi dan menerima.

Seorang pasangan harus memperbaiki dan mendukung pasangan yang lain kapan pun dibutuhkan. Pernikahan Aida dengan suaminya berjalan baik karena keduanya secara sadar berusaha untuk menjadikannya berhasil. Jika suatu saat salah satu dari mereka berhenti berusaha, pernikahan mereka akan berantakan.

Embed from Getty Images

Selama tujuh tahun menikah, Aida telah mendapati beragam jenis orang. Ada yang memberi selamat karena “bisa mempertahankan”, ada pula orang yang sampai menyebut “anak yang tidak sah” ketika Aida melahirkan. Semua itu orang-orang katakan hanya karena Aida seorang suni dan suaminya seorang Syiah.

Bentuk intoleransi yang mereka hadapi sangat mengerikan. Bukan hanya orang asing, tapi yang paling menyakitkan justru perilaku orang-orang yang mereka kenal dan sayangi. Aida merasa seperti tertusuk.

Bagaimana cara Aida menghadapi orang-orang yang suka menghakimi itu? Berpaling. Seperti yang ditirukan oleh Nabi Muhammad saw.

Menurut Aida, orang-orang yang gemar menghakimi orang lain lebih baik memusatkan perhatian pada kekurangan diri mereka sendiri. Jangan membuang waktu untuk menilai orang lain. Mereka seharusnya sadar kalau pengaruh kata-kata dan perbuatan pada diri seorang dapat menghancurkan semangat hidup seseorang. Terlebih, itu bukan cara-cara yang islami.

Seiring berjalannya waktu, Aida telah membiasakan dirinya untuk mengabaikan perkataan orang lain. Semua itu membuatnya lebih nyaman dengan diri sendiri. Menurut Aida, sebagai manusia sekaligus sebagai muslim, kita sudah sering melupakan apa yang Nabi Muhammad korbankan sepanjang hidupnya. Islam ialah perdamaian dan toleransi. Tidak ada ruang untuk kebencian atau menghakimi orang lain.

Jika Nabi Muhammad memaafkan dan mendoakan orang-orang kafir yang membenci dan melemparinya dengan batu, siapalah kita yang justru memecah belah umat? Siapalah kita yang menghakimi orang lain hanya karena mereka punya dosa yang berbeda dengan kita? Apa kita sudah menjadi muslim sempurna tanpa cela sehingga melupakan dosa kita sendiri? Apakah hidup kita sudah sempurna dan tidak ada yang lebih baik dilakukan selain menilai orang lain?

Aida bersumpah untuk mengajari anak-anaknya lebih toleran dan tidak menghakimi orang lain. Dia akan mengajari anak-anaknya untuk tidak menunjuk kekurangan orang lain. Tapi lebih penting untuk melihat kekurangan pada diri sendiri dan berusaha menjadi manusia yang lebih baik. Aida Ishtiaq berpesan, sebelum kita berkata atau bertindak, renungkanlah: inikah yang akan nabi lakukan?

Selengkapnya:

Ishtiaq, Aida (13 Mei 2017). “My Story: Kindness is the Key”Newsline.