Pengantin Baru yang Menjadi Janda dalam 13 Hari

Namanya Thanna Alghabban. Tahun 2015 ini, dia merayakan ulang tahunnya yang ke-26. Pada tahun ini juga, dia menikahi sahabat terbaik yang menjadi belahan jiwanya dan mengandung anak pertamanya. Pada tahun yang sama, dia kehilangan suaminya. Thanna lahir di Manchester dan pindah ke London pada usia 7 tahun. Dia dibesarkan dalam keluarga muslim yang moderat; semua wanitanya mengenakan jilbab. Thanna juga mengenakan jilbab ketika berusia 8 tahun. Dia terus memakai jilbab (meski bukan dengan cara yang terbaik) sampai berusia 25 tahun. Pada usia inilah, dia mencapai usia krisis paruh baya dan jilbabnyalah yang menjadi alasan utama. Lanjutkan membaca “Pengantin Baru yang Menjadi Janda dalam 13 Hari”

Berjalan Bersama Kematian

“Bagaimana kalau besok saya mati?” Banyak dari kita tidak senang mendengar kalimat seperti itu, apalagi jika yang mengucapkannya adalah kerabat. Padahal memang demikianlah sifat kematian; ia tidak mengenal waktu karena tidak perlu menunggu besok. Juga tidak mengenal usia karena bisa mendekati yang tua dan muda. Ia juga tidak mengenal tempat. Ada yang tewas karena peluru nyasar bahkan kesetrum saat berjalan di trotoar. Ada pula yang tewas akibat jembatan putus di Kalimantan yang berasal dari Jawa.

Hal apa yang paling dekat, tanya Imam Ghazali. Kematian adalah jawabnya. Ia begitu dekat bagi makhluk apa saja tanpa mengenal warna kulit, bentuk fisik, kualitas akhlak, agama, apalagi label mazhab. Bahkan ateis yang menolak Tuhan pemberi kehidupan tidak mampu menolak kematian. Tapi kita relatif tidak senang mendengar kenyataan melalui pertanyaan itu. Kita akan mengatakan, “Ah, jangan bicara seperti itu.”
Lanjutkan membaca “Berjalan Bersama Kematian”

Menangisi Kehidupan

Pagi menjelang siang pada hari Senin (16/05) yang lalu saya masih ada di sebuah stasiun, ketika tiba-tiba handphone bergetar. Suara kakak di telepon seakan ikut bergetar mengabarkan bahwa jiddah meninggal. Kabar ini mengejutkan karena beberapa hari terakhir nenek terlihat lebih sehat. Sepupu dan khalati masih sempat sarapan bersama dengannya. Setelah sarapan beliau mandi, wudu, berdoa, kemudian berjemur di halaman depan sambil duduk di kursi roda.

Saya berbicara dengan sepupu tentang betapa cepat waktu mengambil orang kesayangan satu per satu. Sifat kematian yang tidak pernah kenal permisi membuat kita harus selalu waspada. Waspada dalam menjaga perasaan orang lain, khususnya orang tua. Saya membayangkan betapa banyak kesalahan saya kepada orang tua, kerabat, dan ketika kematian mengambil mereka dan tidak ada kesempatan bagi kita untuk meminta maaf?
Lanjutkan membaca “Menangisi Kehidupan”