Dilema Suni-Syiah (10): Memulai Penelitian

Tak hanya mempelajari media massa dan jurnalisme di Mesir, Raya Shokatfard juga mempelajari perihal televisi dan produksi dokumenter. Raya merasa harus mempelajari semua media dan alat. Raya memanfaatkan semua kesempatan yang ada untuk membuat film dan mendapatkan bantuan universitas dengan suntingan dan alat-alat lainnya. Lanjutkan membaca “Dilema Suni-Syiah (10): Memulai Penelitian”

Sambutan dari Kota Anggur di Iran

Kalau Anda pernah membaca beberapa tulisan sebelumnya mengenai konferensi persatuan Islam di Tehran, tersebutlah nama Vahid Azizi, salah seorang panitia yang menemani kami selama beberapa hari hingga ke bandara di hari terakhir. Kemarin, dia menghubungi saya ketika tahu saya sedang menetap di kota Qazvin. “I will be in Qazvin tomorrow. My home near from Qazvin. If you aren’t busy, you will be my guest for lunch in Takestan.” Saya berusaha membuka Google Maps untuk mencari tahu makna kata jarak dekat yang dikatakannya. Memang tidak sejauh Qazvin-Tehran, tapi jarak Qazvin-Takestan sekitar 30 kilometer.

Saya belum menjawab. Masih ragu karena saya ingin bersiap menyambut pelajaran baru yang rencananya akan dimulai pada lusa. “My father, mother, and brother like to see you! I know that you don’t have enough time, but if you won’t come you’re a bad boy!” Menimbang kesempatan yang mungkin hanya datang sekali, saya pun memutuskan untuk berangkat sambil sejenak beristirahat dari masalah birokrasi. “Okay, I will. Just make sure I’ll be back at 3 o’clock.”
Lanjutkan membaca “Sambutan dari Kota Anggur di Iran”

Cucu Malcolm X Memilih Syiah

Setelah masa muda yang penuh masalah, Malcolm Shabazz berusaha untuk mengikuti jejak kakeknya, Malcolm X. Dia juga cucu dari Dr. Betty Shabazz yang meninggal pada tahun 1997 setelah menderita luka bakar di apartemennya. Malcolm yang saat itu berusia 12 tahun mengaku bersalah telah menyulut api. Ibunya yang pada saat umur empat tahun melihat ayahnya ditembak, Qubilah Shabazz, memberi tahu bahwa neneknya wafat.

Malcolm duduk di penjara dan berbicara kepada arwah neneknya, memohon tanda agar dimaafkan. “Saya hanya ingin dia tahu bahwa saya menyesal. Saya ingin tahu bahwa dia menerima permohonan maaf ini, karena saya tidak bermaksud demikian,” kenangnya. “Tapi saya tidak mendapat jawaban, meski ingin.” Enam tahun setelah kebakaran, dia kembali masuk penjara—kali ini penjara orang dewasa dengan tuduhan pencobaan perampokan. Tapi ia masih mencari kesempatan untuk melanjutkan kehidupan, dan dunia melihatnya akan melihatnya sebagai cucu dari seorang martir.
Lanjutkan membaca “Cucu Malcolm X Memilih Syiah”