Jangan Pernah Bandingkan Fātimah dengan Aisyah

“Apakah Anda ingin agar saya menyamakan ‘Ā’isyah r.a. dengan kedudukan Fatimah? Kalau saya lakukan itu, saya kembali ke masa jahiliah!” Kalimat tegas itu dilontarkan Dr. Adnan Ibrahim—cendikawan sunnī asal Palestina—kepada Syekh ‘Utsmān Al-Khamīs (Othman Alkamees)—ulama salafī asal Kuwait. Reaksi itu dilakukan lantaran ‘Utsmān Al-Khamīs menuding Adnan Ibrahim sebagai penganut Syiah karena ceramahnya mengenai Fātimah putri Rasulullah ﷺ.

Lanjutkan membaca “Jangan Pernah Bandingkan Fātimah dengan Aisyah” →

Hukum Memperingati Maulid Nabi Menurut Sunnī dan Syiah

Siapa sih yang tidak senang kalau orang yang kita sayangi lagi berulang tahun? Apalagi ini bukan sembarang orang, tapi kesayangan Allah (habibullah). Namun bagi sebagian muslim, perkaranya tidak sesederhana itu. Nabi Muhammad saw. adalah rasul terakhir dan segala hal yang berkaitan dengan beliau jadi erat dengan hukum agama. Meski timbul pertanyaan: apakah memperingati maulid nabi itu berkaitan dengan syariat?

Lanjutkan membaca “Hukum Memperingati Maulid Nabi Menurut SunnÄ« dan Syiah” →

Salafi Dulu dan Sekarang, Menurut Rumi

Mengapa kelompok salafi hari ini mengklaim sebagai satu-satunya pengikut salaf? Apa perbedaan antara salafi sebagai sebuah pendekatan dan salafi sebagai sebuah jalan? Ternyata, kedua konsep salafi tersebut tersirat dalam dua karya Jalaluddin Rumi: Fihi Ma Fihi dan Masnavi. Rumi menggunakan karakter salah seorang sahabat nabi untuk menggambarkan dua keadaan yang saling bertolak belakang, seperti kekerasan dan kasih sayang atau peperangan dan perdamaian. Lanjutkan membaca “Salafi Dulu dan Sekarang, Menurut Rumi” →