Story of Stuff

Bulan lalu saya hanya mampu menambah dua tulisan. Padahal, sepulang dari Iran saya berencana untuk sebisa mungkin menceritakan apa yang didapat. Meski agak basi, kata orang tidak ada yang terlambat. Untung-untung kalau dianggap bermanfaat. Pada salah satu sesi bertemakan ekonomi internasional, Dr. Razaqi yang menjadi pengajar di Universitas Imam Sadiq, menceritakan dengan singkat mengenai sikap serakah berbalut konsumerisme manusia yang menciptakan kondisi ekonomi dan dunia yang semakin memburuk. Banyak sisi kehidupan dijadikan lahan industri untuk meraup keuntungan, mulai dari makanan hingga olahraga.

Sebelum memulai seminar, Dr. Razaqi menampilkan video kreasi The Story of Stuff Project, sebuah video bertemakan lingkungan yang diproduksi oleh Annie Leonard dkk. Sebagaimana yang sudah saya katakan, pembicara menyampaikan dengan bahasa Persia yang cepat. Penerjemah tidak bisa mengejar, bahkan beberapa mahasiswa Iran tidak mampu menyerap keseluruhan. Jadi, saya memilih untuk menyampaikan kembali Story of Stuff.
Lanjutkan membaca “Story of Stuff”

Abu Bakar Baasyir Inginkan Imamah

Bagi sebagian orang ini berita biasa, tapi bagi saya ini cukup menarik. Ustaz Abu Bakar Baasyir yang dijuluki “Si Mata Singa” ini keluar dari Majelis Mujahidin Indonesia. Dia menganggap bahwa sistem organisasi yang di-amiri-nya sudah tidak sejalan dengan syariat dan kembali ke jahiliah. Hal ini karena menurutnya pemimpin hanya sebagai simbol dan tidak memiliki otoritas dalam mengambil keputusan saat rapat.

“Sistem kepemimpinan seperti ini tidak ada dalam sejarah Islam. Dalam Islam hanya mengenal sistem berorganisasi yang disebut dengan jama’ah wal imâmah yaitu pemimpin mempunyai otoritas penuh untuk mengambil keputusan setelah bermusyawarah dengan majelis syura, lalu amir-lah yang mengambil keputusan akhir walaupun keputusan itu tidak populer dalam majlis syura, dan seluruh anggota baik di majelis syura hingga tingkat bawah harus sami’nâ wa atha’nâ siap taat melaksanakan bersama,” kata Baasyir.
Lanjutkan membaca “Abu Bakar Baasyir Inginkan Imamah”

Demokrasi Kufur vs. Tolak Khilafah

Saat saya duduk menulis mengetik tulisan ini, di sebelah saya terdapat pamflet yang ditempel dengan huruf besar bertuliskan: “DEMOKRASI SISTEM KUFUR”. Lalu di bawahnya tertera nama kelompok penempel pamflet: Gema Pembebasan dari teman-teman Hizbut Tahrir Indonesia, Komsat UIN Syahid Jakarta.

Satu kata yang terlintas dalam pikiran saya sewaktu membaca tulisan itu: berlebihan alias gila!. Bagaimana tidak, demokrasi yang merupakan salah satu dari sekian banyak sistem pemerintahan atau kenegaraan dianggap sebagai sistem kufur. (Berarti, negara  dan warga negara yang menggunakannya adalah kafir? Kalau manusia yang hidup di dalamnya?)

Lanjutkan membaca “Demokrasi Kufur vs. Tolak Khilafah”