Cucu Malcolm X Memilih Syiah

Setelah masa muda yang penuh masalah, Malcolm Shabazz berusaha untuk mengikuti jejak kakeknya, Malcolm X. Dia juga cucu dari Dr. Betty Shabazz yang meninggal pada tahun 1997 setelah menderita luka bakar di apartemennya. Malcolm yang saat itu berusia 12 tahun mengaku bersalah telah menyulut api. Ibunya yang pada saat umur empat tahun melihat ayahnya ditembak, Qubilah Shabazz, memberi tahu bahwa neneknya wafat.

Malcolm duduk di penjara dan berbicara kepada arwah neneknya, memohon tanda agar dimaafkan. “Saya hanya ingin dia tahu bahwa saya menyesal. Saya ingin tahu bahwa dia menerima permohonan maaf ini, karena saya tidak bermaksud demikian,” kenangnya. “Tapi saya tidak mendapat jawaban, meski ingin.” Enam tahun setelah kebakaran, dia kembali masuk penjara—kali ini penjara orang dewasa dengan tuduhan pencobaan perampokan. Tapi ia masih mencari kesempatan untuk melanjutkan kehidupan, dan dunia melihatnya akan melihatnya sebagai cucu dari seorang martir.
Lanjutkan membaca “Cucu Malcolm X Memilih Syiah”

Kemudahan dalam Memperoleh Petunjuk, Sekalipun Menjadi Syiah

Kalau kita mengikuti pemberitaan Gayus Tambunan, ada sosok bernama Devina. Devina adalah penulis surat pembaca Kompas yang mengaku melihat Gayus dalam pesawat menuju Singapura. Sayangnya, menurut polisi, kesaksian Devina belum cukup kuat. Pasalnya peristiwa yang dialaminya terjadi pada bulan September 2010, sedangkan dia menulis pada awal Januari 2011. Sebelum terjadi distorsi atau perubahan cerita, ada cerita yang ingin saya bagi dari seorang ibu yang saya temui.

Lanjutkan membaca “Kemudahan dalam Memperoleh Petunjuk, Sekalipun Menjadi Syiah”

Menemukan Jalan Kebenaran

Oleh: Muhammad Yusuf

Dengan Nama Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang

Bagaimana saya, suni yang mengikuti fikih Hanafi, datang mencari dan memeluk Jalan Kebenaran dari ahlulbait? Segala puji dan syukur hanya bagi Allah Swt. yang dengan rahmat dan kasih sayang-Nya membimbing saya menuju kebenaran.

Lanjutkan membaca “Menemukan Jalan Kebenaran”